Arah Pengembangan Profesi dan Organisasi Guru Era Industri 4.0

32
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional
Setiap tahun pada tanggal 25 November akan diperingati sebagai hari Guru bahkan organisasi guru pada puncak hari peringatan nantinya akan berupaya untuk mengundang Kepala Negara yakni Presiden Republik Indonesia.

Isu-isu yang berkembang saat ini adalah semakin gencarnya tuntutan akan perubahan kurikulum, termasuk penghapusan jabatan pengawas sekolah (pendidikan) serta pengembangan kompetensi khususnya diklat guru dalam mengembangkan kompetensi profesionaismenya pengelolaannya diberikan kepada organisasi guru berdasarkan acuan kompetensi yang dibutuhkan. Pada jenjang SD mata pelajaran cukup hanya 4 mata pelajaran dan SMP sebanyak 5 mata pelajaran, SMA maksimal 6 mata pelajaran tanpa penjurusan. Siswa yang ingin focus pada keahlian siswa dipersilahkan memilih sekolah SMK.

Sebuah terobosan baru apabila memang benar demikian maka para pengawas yang ada saat ini harus siap kembali menjadi guru tugas-tugas pengawasan dibebankan kepada para kepala sekolah sebagai manajerial dan supervisior. Dalam menghadapi era globalisasi dan industry 4.0 tuntutan tersebut memang realistis dan perlu pengkajian yang lebih komprehensif untuk menyesuaikan dengan kondisi riil pendidikan kita saat ini.

Perubahan Paradigma
Banyak kalangan berpendapat bahwa paradigma pengembangan profesionalisme guru masih mengacu dengan pendekatan proyek dan program-program pragmatis yang kurang menghargai pengalaman empiris guru (tacit knowledge).

Diperlukan reorientasi paradigma dengan memahami konsep belajar seorang professional dan merevitalisasi pengembangan profesionalisme guru ke arah pengembangan continuous authentic professional learning (CAPL).

Hingga saat ini pengembangan program profesionalisme guru memang sangat jelas bahkan kebijakan yang adapun berjalan tidak tepat dan konsisten. Masalah profesionalisme guru adalah persoalan kultural yang tidak bisa diselesaikan melalui kebijakan dan implementasi program-program pragmatis, populis serta sarat dengan muatan politis. Secara epistimologis para perancang program dan pengambil kebijakan pengembangan profesionalisme guru masih memiliki cara pandang yang terlalu obyektifistik dan bernuansa rasionalis ekonomis.
Mengutip pendapat Reigeluth (2009) yang menyatakan bahwa dalam pengembangan teori-teori pembelajaran bisa menjadi sumber informasi berharga (2009).

Sejalan dengan hal itu, Ann Webster (2009: 714), menyatakan diperlukan konsen pengembangan profesionalisme berkelanjutan yang berangkat dari perspektif mempertimbangkan latar sosio-kultur guru dalam konteks keseharian guru menjalankan profesi disertai adanya kehadiran supervisi. Berbagai kalangan juga cenderung berpendapat bahwa pergeseran paradigma professional development (PD) menuju professional learning (PL) dan akhirnya mencapai continuous authentic professional learning (CAPL) harus meletakkan kesadaran dan letak tanggungjawab pengembangan profesionalisme yang ada pada diri guru.
Itulah sebabnya profesionalisme harus dilihat bahwa terbentuk dari pengalaman holistik (kombinasi dari berbagai faktor terkait) bukan sekadar dalam dimensi-dimensi kompetensi yang sering dilihat secara diametrikal.

Perlu juga dipahami bahwa seorang professional konsep belajarnya terlihat yakni seorang profesional belajar dari pengalaman terjadi secara siklikal sebagaimana pendapat Barbara Rogoff (1995) yang disebut microgenetic development moment by moment (experiential learning cycle), belajar dari tindakan reflektif; disebut sebagai pusatnya praktek keprofesionalan karena melalui aktifitas reflektif transformasi pengalaman menjadi aktifitas belajar. Kemudian guru belajar dimediasi oleh konteks; belajar selalu terjadi dalam konteks bukan sekedar fisik namun juga interaksi sosial dan konteks ini sebagaimana menurut Boud dan Walker (1998;196) dianggap satu yang paling berpengaruh penting atas refleksi dan belajar. Dwight King Y (1998: 88) juga menyatakan bahwa pada sisi pengembangan karir untuk guru pendidikan dasar dan sekolah menengah di Indonesia masih sangat terbatas. Sistem penghargaan dan insentif terhadap guru berpotensi mendorong pengembangan profesionalisme guru harus diintensifkan.
Diantaranya kepangkatan; guru bisa meloncat jabatan dengan persetujuan kepala sekolah dan dinas pendidikan dengan melakukan penelitian akademik dan menulis makalah termasuk dalam promosi jabatan.

Promosi guru harus lebih tinggi di banding pegawai di sektor lain seharusnya lebih banyak guru yang dipromosikan.
Gaji guru semestinya memiliki standar yang layak dan program sertifikasi hendaknya diberikan kepada guru sesuai tingkatan profesionalisme dan tidak disamaratakan.

Perubahan Kurikulum

Dalam sejarahnya perubahan kurikulum pendidikan kita sejak mulai merdeka tahun 1945 sudah mengalami perubahan selama 10 (sepuluh) dekade, yaitu tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004, 2006, dan akhir-akhir ini ditahun 2013.

Jika ditelaah dari perjalanan perubahan kurikulum tersebut, memang ada hal-hal yang mendasari perlunya ada kebijakan perubahan yang harus dilakukan oleh pelaku-pelaku bangsa ini. Untuk itu dalam menghadapi era global dan industry 4.0 perubahan kurikulum terus mencuat agar segera dilakukan reformasi besar-besaran.

Mengutip pendapat Yusrin Ahmad Tosepu., “Revolusi Industri 4.0 itu hanya istilah semata, yang sesungguhnya adalah tradisi berpikir manusia yang mengikuti garis linier hubungan antara pengetahuan, sains, dan teknologi yang pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa karena terciptanya peralatan-peralatan yang digunakan untuk memudahkan manusia melakukan kegiatan-kegiatan yang sulit dan rumit.”. Banyak analisa menyatakan bahwa keunggulan kompetitif (competitive adventage) sebuah bangsa di era revolusi industri 4.0 ini sesungguhnya pengejawantahan dari kemampuan mengintegrasikan beragam sumber daya yang dimiliki agar memiliki konektivitas pada penguasaan teknologi, komunikasi, dan big data untuk menghasilkan “smart product” dan “smart services”, dan tidak sekadar pada produktivitas kerja yang berskala besar semata. Puncak dari tradisi berpikir yang mengikuti garis linier ini adalah masa yang disebut dalam sejarah sebagai revolusi industri, yang pengaruhnya pada perubahan alam dan perubahan perilaku manusia sungguh sangat luar biasa.

Saat ini, cara-cara berpikir dengan “ilmu kolaborasi” telah tumbuh dengan pesat dan subur bahkan telah melahirkan karya-karya jasa ataupun produk benda-benda yang sangat nyata dan dibutuhkan oleh masyarakat.

Ilmu semacam ini dapat dilakukan oleh siapa saja, tanpa harus memiliki ijazah apa pun. Karena itu perlu penyelarasan pembelajaran dalam tataran praktik yang disesuaikan pada konstruk kurikulum yang telah ada menjadi fokus pertama dalam penyelesaian “pekerjaan rumah” pemerintah dalam bidang pendidikan. Kebijakan kurikulum  harus mengelaborasi kemampuan peserta didik pada dimensi pedagogik, kecakapan hidup, kemampuan hidup bersama (kolaborasi), dan berpikir kritis dan kreatif. Kurikulum pembelajaran harus mengedepankan “soft skills” dan “transversal skills”, keterampilan hidup, dan keterampilan yang secara kasat tidak terkait dengan bidang pekerjaan dan akademis tertentu.

Kemampuan stimulus peserta didik melalui beragam terobosan metode belajar kontekstual yang mendorong peserta didik berpikir kritis dalam beragam konteks hidup yang nanti dihadapinya.

Salah satu contoh diantaranya adalah problem-based learning, inquiry-based learning, pendekatan pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics (STEAM), dan ragam pendekatan pembelajaran lainnya. Survival of the fittest sepertinya akan berlaku di era generasi ke empat dan hanya mereka yang adaptiflah, yang akan survive terhadap ancaman revolusi industri 4.0.

Munculnya digitalisasi dalam sistem pendidikan melalui inovasi aplikasi teknologi ditandai dengan hadirnya massive open online course (MOOC) atau inovasi pembelajaran berbasis online dan kecerdasan buatan. Di bidang pendidikan, kecerdasan buatan membantu pembelajar melakukan pencarian informasi sekaligus menyajikannya dengan akurat dan interaktif.

Mengingat tantangan yang begitu besar, maka guru harus terus belajar meningkatkan kompetensi sehingga mampu menghadapi peserta didik generasi milenial. Pendidikan juga harus diimbangi dengan karakter dan literasi akan menjadikan peserta didik akan sangat bijak dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan masyarakat.

Organisasi Guru Harus Berubah

Menghadapi era industry 4.0 berbagai organisasi guru harus berubah termasuk dalam mengemban visi dan misinya dalam mensukseskan program pembangunan utamanya sektor pendidikan.
Guru dituntut untuk memiliki semangat belajar yang tinggi dan kemampuan mengajar yang mumpuni. Guru harus mampu beradaptasi dengan situasi saat ini serta mengambil manfaat terbaik yang terus berubah cepat setiap saat. Sikap profesinal guru di era revolusi 4.0 maka guru harus memperhatikan educational competence, ayakni kompetensi mendidik atau pembelajaran berbasis internet of thing sebagai basic skill. Kemudian competence for technological commercialization, yakni mempunyai kompetensi membawa siswa memiliki sikap entrepreneurship (kewirausahaan) berbasis teknologi dan hasil karya inovasi siswa.

Competence in globalization, dunia tanpa sekat, tidak gagap terhadap berbagai budaya, kompetensi hybrid dan keunggulan memecahkan masalah (problem solver competence). Competence in future strategies, bahwa dunia mudah berubah dan berjalan cepat, sehingga punya kompetensi memprediksi dengan tepat apa yang akan terjadi di masa depan berikut strateginya.

Selamjutnya adalah conselor competence, mengingat ke depan masalah anak bukan pada kesulitan memahami materi ajar, tapi lebih terkait masalah psikologis, stres akibat tekanan keadaan yang makin kompleks dan berat, dibutuhkan guru yang mampu berperan sebagai konselor/psikolog.

Mengutip Soetjipto dan Raflis Kosasi (1999: 55) sebagai guru yang professional harus selalu meningkatkan pengetahuan baik materi bidang kompetensinya atau pengetahuan teknologinya, sikap, dan keterampilan secara terus menerus. Sasaran penyikapan itu meliputi penyikapan terhadap perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, peserta didik, tempat kerja, pemimpin dan pekerjaan. Sebagai jabatan yang harus dapat menjawab tantangan perkembangan masyarakat, jabatan guru harus selalu dikembangkan dan dimutakhirkan.

Organisasi guru dalam mengembangkan kometensi guru juga harus mampu beradaptasi dengan tuntutan dunia global. Pola-pola lama harus ditinggalkan. Kemajuan teknologi informasi harus mampu mengembangkan kompetensi guru kea rah yang lebih baik. Dalam gugus organisasi seperti MGMP kegiatannya harus benar-benar mengacu pada tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni (Iptekks). Semoga.

(dihimpun dari berbagai sumber relevan: penulis adalah Guru SMPN 11 Kota Jambi).

More
Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda