Membelajarkan Kreatif Pada Anak di Era Milenial

22
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional
Kompetisi sesungguhnya di masa depan adalah kompetisi sumber daya manusia (SDM). Manusia yang berdaya, akan mampu menguasai atau mengelola sumber daya alam, meskipun sumber daya alam itu tidak tersedia di negaranya. Sebaliknya manusia yang tidak berdaya, adalah manusia yang tidak mampu menjaga sumber daya alamnya.

Salah satu penyebabnya berkemungkinan besar akibat salah arah serta terhipnotis dengan kemajuan teknologi mesin, robot bahkan internet. Berdasarkan data Indonesia Digital Landscape 2018, yang dirilis pada bulan Januari 2018, dari total populasi penduduk yang 265 juta jiwa, pemilik Unique Mobile User adalah 178 juta jiwa (67 %), Internet Users 132,7 Juta Jiwa (50 %) dan Active Social Media Users 130 juta jiwa (49 %).

Dan dari pengguna internet itu, 91 % adalah pengguna Mobile Phone, 60 % Smart Phone, hanya 22 % saja yang menggunakan Komputer Desktop atau Laptop. Artinya, separuh penduduk Indonesia saat ini sudah terjangkau internet dan pengguna media sosial aktif, dengan sebagian besar menggunakan telepon genggam. Data pada Januari 2018 ini melonjak 20-30% dibanding bulan Januari tahun 2017, dan diprediksi akan terus meningkat di tahun berikutnya.

Menghadapi era digital saat ini, sudah saatnya kita mengubah paradigma proses pembelajaran di dalam kelas menjadi suatu proses yang penuh dengan pengalaman, memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berkolaborasi dengan gurunya, dengan teman-temannya membangun dan mengorganisasi pengetahuan, melibatkan diri dalam penelitian, belajar menulis, menganalisis serta mampu mengkomunikasikan apa yang mereka alami sebagai suatu pemikiran baru sebagai wujud pengalaman sesuai dengan usia mereka. Guru di era digital perlu memahami bagaimana cara peserta didiknya belajar dan mencarikan yang terbaik di antara berbagai pilihan-pilihan yang ada.

Metode pembelajaan kreatif sendiri memiliki dua makna yakni pembelajaran kreatif dan membelajarkan kreatif. Perbedaan kedua hal ini adalah, pembelajaran kreatif lebih melibatkan peranan guru dalam membuat proses pembelajaran di dalam kelas menjadi menarik terhadap peserta didik, lebih efektif dan menggunakan pendekatan imajinatif. Sedangkan membelajarkan kreatif lebih menekankan kemampuan guru dalam mengidentifikasi kekuatan kreatifitas peserta didiknya, memperkuat daya kreatifnya serta memberikan kesempatan kepada mereka untuk mewujudkannya.

Harus Memiliki Skill
Mengutip dari World Economic Forum merilis setidaknya ada 10 skill yang harus dimiliki para pekerja pada tahun 2020. Skill-skill tersebut yaitu, pemecahan masalah yang komplek (problem solving), berpikir kritis, kreativitas, manajemen manusia (kemampuan memimpin), berkoordinasi dengan orang lain (kerjasama di dalam tim). Memiliki kecerdasan emosional (mampu mengelola emosi), mampu menilai dan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, berorientasi servis (jiwa melayani), mampu membangun komunikasi yang baik dengan orang lain (negosiasi), dan fleksibilitas kognitif (terbuka akan perubahan).

Selain itu untuk menghadapi era digital atau industri 4.0, pemerintah terus berupaya untuk menjadikan Indonesia merdeka sinyal atau terbebas dari blank spot pada 2020, dengan pembangunan infrastruktur pendukung melalui program BTS Universal Service Obligation (USO). Masuknya era revolusi industri 4.0 menjadi momen penting bagi Indonesia dalam memacu kompetensi sumber daya manusia (SDM). Untuk itu diperlukan upaya pengembangan transformasi pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja saat ini.

Generasi millennial juga memiliki sifat yang lebih toleran terhadap sesamanya dan membuat generasi millennial menjadi lebih terbuka terhadap perbedaan, wawasan mereka terhadap keberagaman pun menjadi lebih luas sehingga timbul sifat toleran yang cukup tinggi dari generasi ini. Pendidikan yang tinggi ternyata tidak cukup, anak muda harus dibekali dengan berbagai pengalaman dan soft skills yang baik, menjadi pribadi yang kreatif, aktif, dan inovatif. Agar bisa menjadi generasi millennial yang kreatif, aktif, dan inovatif di era modern di masa depan siswa harus banyak membaca buku, menggunakan internet dan media social dengan bijak.

Bersikap terbuk terhadap pengalaman baru, membangun ide dan visi ke depan serta rajin berolahraga dan membiasakan diri bangun pagi. Sebagai “agent of repair”, pemuda Indonesia dituntut untuk berinovasi dan berprestasi agar dapat bersaing di era globalisasi. Pemuda milenial harus mampu ambil bagian, memiliki andil serta menjadi pembaharu dalam mengahadapi revolusi industri 4.0 dan puncak industri Indonesia yang diramalkan akan terjadi pada tahun 2030. Sebagai “agent of repair” kaum muda dituntut untuk memperbaiki dan merubah kondisi tersebut serta tidak tunduk menjadi produk dari sistem yang sudah ada. Banyaknya perubahan industri saat ini yang digerakkan oleh ide-ide kreatif yang mendobrak cara-cara konvensional.

Ada banyak hal yang bergeser seiring dengan perkembangan zaman, terutama di era digital. Seiring perkembangan di era digital, teknologi semakin canggih dan bisa dikatakan semakin memudahkan hidup.

Berkarakter Andal
Masyarakat yang memiliki pendidikan yang baik dapat memperkokoh pondasi negaranya. Tak ada satu negara di dunia ini yang melalaikan pendidikan untuk rakyatnya apabila negara tersebut berkeinginan untuk maju dan besar.   Zaman milenial ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat sehingga mampu merubah cara berpikir dan bertindak manusia.

Membangun karakter seseorang tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat bahkan memiliki waktu dan proses yang cukup panjang. Pendidikan karakter yang diberikan harus mengandung tiga unsur pokok yakni mengetahui kebaikan, mencintai kebaikan, dan melakukan kebaikan (sumber: Lickona, 1991).

Pendidikan karakter lebih mengarah kepada pembentukan akhlak yang baik serta mental yang kuat. Pendidikan karakter memang sangat dianjurkan dimulai dari usia anak-anak agar mudah menanamkan kebiasaan (habituasi) tentang sesuatu yang baik. Pendidikan karakter ini tentu saja memerlukan dukungan dari faktor-faktor yang lain seperti peran agama dan peran lingkungan.

Budaya global dan gaya hidup (life style) merupakan efek paling kentara akibat fenomena ini. Globalisasi sebagai proses mendunianya seluruh kehidupan sosial, ekonomi, politik hingga budaya antara satu negara dengan negara lainnya hingga seluruh dunia dinyatakan tidak memiliki ‘batas’ alias borderless. Sebagian besar masyarakat khususnya anak muda telah terpengaruh oleh budaya barat yang dijadikan sebagai ‘kiblat’ setiap perilaku mereka, sehingga hilanglah sudah identitas dan jati diri mereka sebagai bangsa Indonesia.

Pada dasarnya pendidikan budaya dan karakter bangsa dimaknai sebagai pendidikan yang mengembangkan nilai–nilai budaya dan karakter bangsa pada diri peserta didik sebagai warga negara yang religius, nasionalis, dan kreatif sehingga dapat mewujudkan kemajuan dan keunggulan bangsa di masa mendatang.

Kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill), namun lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill). Berbagai penelitian juga mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20 persen oleh hard skill dan sisanya 80 persen olehsoft skill.
Pendidikan karakter tidak akan tampak hasil nyatanya jika ia ada hanya sebatas tentang proses pemahaman karakter tanpa adanya tindakan.
Mengutip pendapat Gunawan, H. (2012) kunci dari pendidikan karakter adalah disiplin, komitmen dan penerapan. Ketiga hal ini yang menjadikan penerapan atau pelaksanaan pendidikan karakter di sebuah institusi akan berlangsung secara baik.

Pendidikan yang sangat dibutuhkan saat ini adalah pendidikan yang dapat mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pendidikan yang dapat mengoptimalkan perkembangan seluruh dimensi anak (kognitif, fisik, sosial-emosi, kreatifitas, dan spiritual).

Pendidikan dengan model pendidikan seperti ini berorientasi pada pembentukan anak sebagai manusia yang utuh. Pendidikan karakter pada intinya bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif, berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong royong, berjiwa patriotik, berkembang dinamis, berorientasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa kepada TYME berdasarkan Pancasila.

Banyak sumber dan pengalaman berbagai kalangan menyatakan bahwa pendidikan karakter berfungsi untuk mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik.

Memperkuat dan membangun perilaku bangsa yang multikultur serta meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam pergaulan dunia. Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

Perlu digarisbawahi bahwa pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan dalam menerapkan pendidikan karakter ialah nilai moral universal yang dapat digali dari agama.
Menerapkan pendidikan karakter guru harus berusaha menumbuhkan nilai-nilai tersebut melalui spirit keteladanan yang nyata, bukan sekadar pengajaran dan wacana saja.

Pendidikan karakter di sekolah hendaknya berpijak pada nilai-nilai karakter, yang selanjutnya dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau tinggi (yang bersifat tidak absolute atau relative), yang sesuai dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri. Pembentukan karakter dikembangkan melalui tahap pengetahuan (knowing), pelaksanaan (acting), dan kebiasaan (habit). Karakter tidak terbatas pada pengetahuan saja. Seseorang yang memiliki pengetahuan kebaikan belum tentu mampu bertindak sesuai dengan pengetahuaanya., jika tidak terlatih(menjadi kebiasaan) untuk melakukan kebaikan tersebut, karakter juga menjangkau wilayah emosi dan kebiasan diri.
Karena itu diperlukan tiga komponen yang baik (component og good character) yaitu moral knowing (pengetahuan tentang moral), moral feeling  atau perasaan (penguatan emosi) tentang moral, dan moral action, atau perbuatan bermoral.

Dimensi-dimensi yang termasuk dalam moral knowing yang akan mengisi ranah kognitif adalah kesadaran moral ( moral awareness), pengetahuan tentang nilai-nilai moral (knowing moral values), penentuan sudut pandang (perspective taking), logika moral (moral reasoning), keberanian mengambil sikap (decision making), dan pengenalan diri (self knowledge).

Moral feeling merupakan penguatan aspek emosi peserta didik untuk menjadi manusia berkarakter. Penguatan ini berkaitan dengan bentuk-bentuk sikap yang harus dirasakan oleh peserta didik, yaitu kesadaran akan jati diri ( Conscience), percaya diri (self asteem), kepekaan terhadap derita orang lain (empathy), kerendahan hati (humility), cinta kebenaran (Loving the good), pengendalian diri (self control).

Moral action merupakan perbuatan atau tindakan moral yang merupakan hasil (outcome) dari dua komponen karakter lainnya. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (act Morally) maka harus dilihat tiga aspek lain dari karakter yaitu kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).Semoga.

(dihimpun dari berbagai sumber relevan: Penulis Guru SMPN 11 Kota Jambi).

Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda