Menulis Karya Ilmiah dan Kreatifitas

40
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Banyak kalangan dan para ahli menyatakan bahwa kegiatan menulis merupakan suatu proses. Intinya, tidak akan ada seseorang yang baru belajar menulis dengan hasil instan akan memiliki suatu hasil karya yang bagus. Dalam prosesnya, seorang penulis pemula bahkan penulis yang memiliki pengalaman puluhan tahunpun akan menghadapi berbagai kendala, baik kendala yang bersifat internal maupun eksternal.

Karya kreatif berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang membentuk pola baru atau korelasi baru. Karya kreatif memiliki maksud dan tujuan, dan diciptakan dengan struktur yang relatif rumit (Hurlock, 1997).

Tulisan lazim dan sering dikatakan sebagai dunia ide. Ide dalam tulisan itu menentukan hidup tidaknya sebuah tulisan, sehingga tidak berlebihan apabila ide dianggap sebagai nafas atau roh sebuah tulisan. Irving Rosenthal dan Morton Yarmon (Gie,1992:8) menempatkan ide sebagai salah satu syarat keberadaan sebuah tulisan. Secara sederhana, ke dua penulis ini membuat rumus tulisan sebagai perpaduan antara idea (ide/gagasan), writer (penulis), dan medium (sarana). Pentingnya ide ini pun mendapat perhatian Cleanth Brooks dan Robert Penn Warren (Gie, 1992:8) yang mengatakan bahwa pengarang harus memperhatikan tiga hal, yaitu sarana (medium), pokok soal (subject), dan keadaan (occasion).

Sarana atau medium sebuah tulisan adalah bahasa dengan kriteria-kriteria tertentu, seperti tatabahasa atau penulisan yang sesuai dengan kaidah kepenulisan yang mengacu pada ejaan yang disempurnakan, irama, dan pilihan kata (diksi). Pokok soal adalah sesuatu yang ditulis dalam karangan, yang disebut ide atau buah pikiran. Ide inilah yang merupakan isi dari sebuah tulisan. Keadaan (occasion) mengacu pada situasi khusus (faktor eksternal), seperti dorongan batin pengarang, keadaan pembaca, dan hubungan pengarang dengan pembaca. Pengalaman penulis juga sejalan dengan uraian diatas, saat penulis mengikuti Diklat Fasilitasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) di Pusat

Pengembangan, Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK) Pendidikan Jasmani dan Bimbingan Konseling di Parung Bogor Jawa Barat 2007 membuktikan demikian. Dalam menulis karya ilmiah dibutuhkan kreatifitas yang senantiasa mengacu pada proses perubahan serta perkembangan zaman ilmu pengetahuan serta teknologi (IPTEKS).
Kata kunci: karya ilmiah dan kreatifitas

Sekilas tentang karya ilmiah
Secara umum, karya ilmiah didefinisikan sebagai tulisan yang mengungkapkan buah pikiran, yang diperoleh dari hasil pengamatan, penelitian, atau peninjauan terhadap sesuatu yang disusun menurut metode dan sistematika tertentu dimana isi serta kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Hal ini didukung oleh Day (Djuroto dan Bambang, 2003:12-13) yang menyatakan bahwa karya tulis ilmiah merupakan suatu tulisan yang memaparkan hasil penyelidikan, pengamatan, pengumpulan data yang didapat dari suatu penelitian, baik penelitian lapangan, tes laboratorium ataupun kajian pustaka. Kedua definisi ini menegaskan bahwa yang dipaparkan dalam karya ilmiah adalah hasil penelitian atau pengkajian yang dilakukan oleh seseorang atau sebuah tim. Kajian atau penelitian itu bisa berbentuk penelitian lapangan, penelusuran literatur (kepustakaan) atau pengamatan (observasi).

Apapun bentuknya, penelitian tersebut harus memenuhi kaidah dan etika keilmuan yang dikukuhkan dan ditaati oleh masyarakat keilmuan.
Apabila ditinjau dari segi bentuk dan fungsinya, karya ilmiah dapat dibedakan ke dalam sepuluh jenis.

Pertama, laporan, atau tulisan yang berisi rekaman kegiatan tentang suatu yang sedang dikerjakan, digarap, diteliti, atau diamati, dan mengandung saran-saran untuk dilaksanakan. Contohnya berupa laporan Praktik Pengalaman Lapangan dan Laporan Praktikum. Laporan ini disampaikan dengan cara se objektif mungkin.

Ke dua, makalah, atau tulisan yang dibuat oleh mahasiswa berkaitan dengan tugas dalam bidang studi tertentu, seperti hasil pembahasan buku maupun hasil suatu pengamatan.

Ke tiga, kertas kerja adalah tulisan yang berisi prasaran, usulan, atau pendapat yang berkaitan dengan pembahasan suatu pokok persoalan, untuk dibacakan dalam rapat kerja, seminar atau simposium.

Jenis karya ke empat adalah skripsi, yakni sebuah karya tulis yang diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Istilah skripsi berasal dari kata description yang berarti menggambarkan dan membahas suatu masalah dengan memaparkan data serta konsep-konsep dari studi literatur yang relevan untuk menghasilkan kesimpulan. Skripsi ditulis berdasarkan studi pustaka atau penelitian bacaan, penyelidikan, observasi, atau penelitian lapangan. Ke lima, adalah tesis, yakni karya tulis dengan tingkat pembahasan lebih dalam daripada skripsi. Istilah tesis berasal dari kata synthesis (sinthation) yang bermakna dasar perpaduan. Jika skripsi bertujuan mendeskripsikan ilmu, maka tesis bertujuan mensintesiskan ilmu yang telah diperoleh dengan temuan dalam penelitian guna memperluas khazanah ilmu yang ditekuni.

Ke enam, disertasi, atau karya ilmiah yang diajukan untuk mencapai gelar doktor, yaitu gelar tertinggi yang diberikan oleh suatu univesitas. Berbeda dengan penulisan skripsi atau tesis yang hanya bersumber dari data penelitian dan pustaka saja. Data dalam disertasi lebih lengkap karena diperoleh dari tiga sumber sekaligus, yaitu penelitian lapangan, penelitian laboratorium serta kajian pustaka. Ke tujuh adalah resensi, yaitu karya ilmiah juga dapat berbentuk resensi, atau karya tulis yang berisi hasil penimbangan, pengulasan, atau penilaian sebuah buku. Resensi, yang juga dikenal dengan istilah timbangan buku (book review) sering disampaikan kepada pembaca melalui surat kabar atau majalah untuk memberi pertimbangan dan penilaian secara objektif, sehingga masyarakat mengetahui apakah buku yang diulas tersebut patut dibaca atau tidak.

Ke delapan adalah kritik, karya ilmiah yang berasal dari kata Yunani kritikos yang berarti “hakim”), yaitu karya tulis yang berisi penilaian baik-buruknya suatu karya secara objektif. Kritik tidak hanya mencari kesalahan atau cacat suatu karya, tetapi juga menampilkan kelebihan atau keunggulan karya itu seperti adanya.

Bentuk karya ilmiah ke sembilan adalah esai, atau karya tulis yang relatif pendek dan membahas suatu subyek (masalah) dari sudut pandang pribadi penulisnya. Permasalahan yang disoroti dalam sebuah esai biasanya dibatasi dan pada penggunaan “sudut pandang” penulis sebagai titik tolak pembahasan membuat opini penulis berperan sentral dalam sebuah esai. Karya ilmiah juga bisa berbentuk artikel ilmiah, yaitu karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati.

Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Sehubungan dengan itu, semua laporan penelitian, termasuk skripsi dan tesis, sangat berpotensi untuk ditulis ulang menjadi artikel untuk diterbitkan dalam jurnal.

Kreatif dan Kreatifitas
Kata “kreatif” merupakan kata yang berasal dari bahasa Inggris yakni “to create”. Create, merupakan singkatan dari combine (menggabungkan) yaitu penggabungan suatu hal dengan hal lain. Reverse (membalik) yatu membalikan beberapa bagian atau proses.

Eliminate (menghilangkan) yakni menghilangkan beberapa bagian. Alternatif (kemungkinan) yaitu menggunakan cara, bahan dan lain-lain dengan yang lain.

Twist (memutar) adalah memutarkan sesuatu dengan ikatan dan Elaborate (memperinci) adalah memperinci atau menambah sesuatu.

Berpikir kreatif sering diartikan melepaskan diri dari pola umum yang sudah tertanam dalam ingatan serta mampu mencermati sesuatu yang luput dari pengamatan orang lain.

Ratusan orang dapat berbicara diantara satu orang yang dapat berpikir, tetapi ribuan orang dapat berpikir diantara satu orang yang dapat melihat. Mengutip John Adair menyatakan bahwa kreatifitas adalah daya piker dan semangat yang memungkinkan kita untuk mengadakan sesuatu yang memiliki kegunaan, tatanan, keindahan,atau arti penting dari sesuatu yang kelihatannya tidak ada.
Conny R.Semiawan menyatakan kreatifitas merupakan kemampuan untuk memberikan gagasan-gagasan baru dan menerapkanya dalam pemecahan masalah.

Kreatifitas terdiri dari dua bentuk yakni aptitude (kecakapan) dan nonaptitude (bukan kecakapan).
Ciri-ciri aptitude dalam pemikiran meliputi fluency (kelancaran) dalam berpikir, flexibility (keluwesan) dalam berpikir serta originality ( keaslian). Adapun ciri-ciri non aptitude adalah rasa ingin tahu, senang mengajukan pertanyaan serta selalu ingin mencari pengalaman –pengalaman baru. Intinya bahwa kreativitas merupakan “kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru baik gagasan maupun karya nyata yang berbentuk aptitude maupun non aptitude baik dalam karya baru maupun kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada yang semuanya berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya.

Mengutip Rhode bahwa kreatifitas dapat didefinisikan dalam 4 jenis dimensi yakni person, the abilities that are characteristics of creative people. Process, that manifest in self in fluency, in flexibility as well in originality of thinking. Press, can be regarded as quality of product or respons judged to be creative by appropriate observes and product, ability to bring something new into existence.

Ciri Khas Karya Ilmiah
Kendati jenis karya ilmiah cukup beragam, terdapat lima ciri khas yang membedakannya dengan ragam tulisan lainnya, seperti puisi ataupun novel. Adapun ciri khasnya, yakni accurate, brief, clear, ethical, dan logical atau sering disingkat dengan ABCEL.

Pertama, karya ilmiah bersifat akurat (accurate), dalam pengertian bahwa keterangan yang diberikan didasarkan pada data faktual dan dapat diuji kebenarannya.

Ke dua, karya ilmiah bersifat ringkas (brief) atau, tidak boleh bertele-tele. Bahasa dalam karya ilmiah bersifat lugas atau denotatif serta mengikuti kaidah-kaidah bahasa yang berlaku, dan kata atau ungkapan bermakna ganda atau multi tafsir harus dicegah dalam karya ilmiah. Ke tiga, karya ilmiah harus jelas dan tuntas (clear).

Semua sisi yang berkaitan dengan masalah dipaparkan secara proporsional. Ke empat, tulisan ilmiah harus ditulis secara etis (ethical), artinya mengikuti secara ajeg notasi ilmiah seperti pencantuman sumber pendapat apabila dikutip dari sumber lain dengan cara menyebutkan nama sumber data atau informasi secara jujur.

Ke lima, karya ilmiah bersifat logis (logical), dengan menggunakan cara berpikir analitik, deduktif atau induktif. Dengan demikian, semua keterangan yang digunakan untuk mendukung setiap ide yang dikemukakan mempunyai alasan yang masuk akal.

Pada saat melakukan analisis dan mengambil kesimpulan, penulis tidak dipengaruhi oleh keberpihakan atau emosi.

Perlu digarusbawahi bahwa proses penciptaan sebuah karya ilmiah disebut juga proses kreatif, yaitu rangkaian kegiatan seorang dalam menciptakan dan melahirkan karya-karyanya sebagai ungkapan gagasan dan keinginannya. Kemampuan kreatif atau mencipta tersebut sesungguhnya bukanlah sesuatu yang istimewa.

Karena pada dasarnya setiap manusia memiliki tiga kemampuan utama, yaitu kemampuan fisik, kemampuan rasio atau akal, dan kemampuan kreatif. Hanya perimbangannya saja yang berbeda-beda antara orang per orang. Mengutip Wallas dalam bukunya “The Art of Thought” menyatakan bahwa proses kreatif meliputi 4 tahap.

Pertama, tahap persiapan, memperisapkan diri untuk memecahkan masalah dengan mengumpulkan data/ informasi, mempelajari pola berpikir dari orang lain, bertanya kepada orang lain.

Ke dua, tahap inkubasi, pada tahap ini pengumpulan informasi dihentikan, individu melepaskan diri untuk sementara masalah tersebut. Ia tidak memikirkan masalah tersebut secara sadar, tetapi “mengeramkannya’ dalam alam pra sadar.

Ke tiga, tahap iluminasi, tahap ini merupakan tahap timbulnya “insight” atau “Aha Erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru. Tahap ke empat, tahap verifikasi, tahap ini merupakan tahap pengujian ide atau kreasi baru tersebut terhapad realitas. Disini diperlukan pemikiran kritis dan konvergen.

Proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti proses konvergensi (pemikiran kritis). Itulah sebabnya pemunculan kreativitas anak tidak dapat diwujudkan dengan instant.

Begitu juga dengan produk kreatifitas karya ilmiah bahwa apa yang dihasilkan dari proses kreatifitas adalah sesuatu yang baru, orisinil, dan bermakna. Menguitip Stein (Basuki:2010), menyatakan bahwa suatu produk baru dapat disebut karya kreatif apabila mendapatkan pengakuan (penghargaan) oleh masyarakat pada waktu tertentu. Sejalan dengan itu Cropley (1994) menunjukkan hubungan antara tahap-tahap proses kreatif dari Wallas (persiapan, inkubasi, iluminasi, verifikasi) dan produk yang psikologis yang berinteraksi.

Konfigurasi dapat berupa gagasan, model, tindakan cara menyusun kata, melodi atau bentuk. Besemer dan Treffirger menyarankan produk kreatif digolongkan menjadi 3 kategori yakni kebaruan (novelty). Kebaruan adalah sejauh mana produk itu baru, dalam hal jumlah dan luas proses yang baru, teknik baru, bahan baru, konsep baru, produk kreatif di masa depan. Produk itu orisinal, sangat langka diantara produk yang dibuat orang dengan pengalaman dan pelatihan yang sama, juga menimbulkan kejutan (suprising) dan juga germinal (dapat menimbulkan gagasan produk orisinal lainnya.

Pemecahan (resolution), menyangkut derajat sejauh mana produk itu memenuhi kebutuhan untuk mengatasi masalah. Ada 3 kriteria dalam dimensi ini yakni produk harus bermakna, produk harus logis, produk harus berguna (dapat diterapkan secara praktis).

Keterperincian (elaboration) dan sintesis, dimensi ini merujuk pada derajat sejauh mana produk itu menggabungkan unsur-unsur yang tidak sama serupa menjadi keseluruhan yang canggih dan koheren.
Karena itu agar orang atau siswa bisa memiliki kreatifitas yang baik, otak dan pikirannya harus secara terus menerus dirangsang sehingga daya kreatifitasnya akan terus berkembangan kea rah yang lebih baik. Seiring dengan perkembangan Iptek serta era industry 4.0 dengan pola siswa merdeka belajar merangsang anak atau siswa untuk berkreatifitas sangat diperlukan.

Dalam menulis karya ilmiah juga demikian, pengembangan daya kreatifitas siswa dengan pola awal menulis bebas (merdeka) perlu dirangsang akan secara signifikan semakin meningkatkan kemampuan mereja dalam menulis karya ilmiah yang lebih baik.

Semoga. (dihimpun dari berbagai sumber: Penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi).

More
Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda