Mewujudkan SDM Unggul dengan Sistem Pendidikan Baik dan Bermutu

55
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Kutipan menarik dan bijak dari BF Skinner, “pendidikan adalah apa yang bertahan ketika apa yang telah dipelajari telah dilupakan”. Peneliti psikologi dari Harvard  ini terkenal dengan pendekatan kebiasaan (behaviorisme) tentu paham benar apapun yang hadir hari ini adalah praktik yang berhasil bertahan terhadap berbagai macam “gangguan”.

Rasional
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Kamis 7 November 2019. menegaskan, rancangan kerja yang sedang dipersiapkan untuk membangun sistem pendidikan hingga 10 tahun ke depan dirangkum dalam 5 gagasan besar untuk menciptakan sumber daya manusia unggul. Lima gagasan tersebut yakni, melanjutkan pendidikan berbasis karakter, deregulasi dan debirokratisasi, pemberdayaan teknologi, meningkatkan inovasi, dan penciptaan lapangan pekerjaan.

Untuk kalangan guru hal yang paling mendesak dilakukan adalah deregulasi dan debirokratisasi. Sebagaimana umumnya  deregulasi adalah aturan atau sistem (sistem yang mengatur), tindakan atau proses menghilangkan mengurangi segala aturan.Deregulasi merujuk pada kebijakan pemerintah mengurangi/meniadakan aturan administratif yang mengekang kebebasan gerak peningkatan kinerja guru termasuk hal-hal yang menghambat tugas-tugas guru. Sedangkan debirokratisasi  diartikan sebagai  tindakan atau proses mengurangi tata kerja yang serba lamban dan rumit agar tercapai hasil dengan lebih cepat. Kata regulasi yang berasal dari regulation bermakna tindakan pengurus¬an dengan berbagai aturan (yang berkekuatan hukum). Dalam bahasa lnggris misalnya  bermakna antara lain “melakukan hal yang sebaliknya”, “mengalihkan sesuatu dari”, “mengurangi”, “suatu ubahan dari” dan “keluar dari”. Intinya bahwa debirokratisasi bermakna  tindakan atau proses mengurangi tata kerja yang serba lamban dan rumit agar tercapai hasil dengan lebih cepat”, sedangkan deregulasi bermakna tindakan atau proses menghilangkan atau mengurangi segala aturan.

Untuk mewujudkan sumberdaya manusia (SDM) yang unggul dibutuhkan sistem pendidikan yang baik dan bermutu. Pada era teknologi informasi, misalnya siswa dituntut untuk memiliki kemampuan membaca dalam pengertian memahami teks secara analitis, kritis, dan reflektif. Dalam tatanan masyarakat global siswa dituntut untuk dapat mengadaptasi kemajuan teknologi dan keterbaruan.

Mengutip Deklarasi Praha (Unesco, 2003) mencanangkan pentingnya literasi informasi (information literacy), yaitu kemampuan untuk mencari, memahami, mengevaluasi secara kritis, dan mengelola informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat untuk pengembangan kehidupan pribadi dan sosialnya.

Mungkin kita bisa belajar dari sistem pendidikan Finlandia yang dianggap sebagai salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia. Pendidikan di negeri ini secara rutin mengungguli Amerika Serikat dalam literasi membaca, sains, dan matematika.

Finlandia selalu menempati skor terbaik dalam survei penilaian siswa internasional (PISA) yang dilakukan tiga tahun sekali sejak 2000. Sebagaimana dilansir dari laporan Big Think yang dipublikasikan World Economic Forum (WEF), sistem pendidikan Finlandia dapat berfungsi dengan baik karena strukturnya ditopang oleh beberapa prinsip utama. Prinsip itu yakni, pertama dan terpenting akses yang sama terhadap pendidikan dan siswa diberi kebebasan memilih jalur edukatif mereka berdasarkan minat dan bakat. Ke dua Orangtua bebas menghabiskan tahun-tahun awal itu untuk bermain, mengajar, dan menjalin ikatan bersama anak. Jika orangtua ingin memulai pendidikan anak lebih awal, sistem Finlandia menawarkan program pendidikan dan perawatan anak usia dini (ECEC).

Mengajar adalah bidang yang sangat dihormati dan profesional di Finlandia. Sebagian besar guru SD memegang gelar master bahkan sekitar delapan puluh persen guru sekolah dasar juga berpartisipasi dalam melanjutkan pengembangan profesional. Tingkat pembelajaran dan pengembangan berkelanjutan ini memastikan para pendidik Finlandia mendalami ilmu pengajaran.

Mencermati Kemajuan Negara Lain

Mencermati kemajuan yang dicapai oleh negara maju intinya tidak terlepas dari pengelolaan sistem pendidikan yang baik. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, negara-negara maju tidak segan-segan untuk mengalokasikan anggaran pendidikan sekitar 25% hingga 30% dari APBN pertahun. Christoper Huhne sebagaimana dikutip David Meggison, dkk (1997) yang menyatakan, bahwa “pengadaan tenaga kerja yang kompeten paling menentukan nasib negara maju dibandingkandengan faktor lainnya.

Saat ini banyak  model pembelajaran pemecahan masalah banyak digunakan serta dikembangkan oleh para pendidik, bahkan pemecahan masalah sekarang ini sudah menjadi taksonomi pengetahuan sebagaimana telah dikembangkan oleh Plant (1980). Pengembangan model tersebut menghasilkan lima taraf taksonomi yakni rutinitas, diagnosis, strategi, interpretasi serta generasi.

Salah satu aspek pendukung sumberdaya manusia (SDM) yang baik adalah melalui pendidikan.  Pendidikan yang efektif harus didasarkan pada arah dan tujuan. Pendidikan akan efektif apabila memiliki jam belajar yang cukup, kuantitas siswa dalam suatu kelas tidak terlalu banyak. Pendidikan akan jauh lebih efektif apabila sesorang sudah tau tujuan mereka dan mengikuti pendidikan sesuai apa yang menjadi bakat mereka. Banyak kalangan menyatakan bahwa di bidang pendidikan, standar pelayanan minimum (SPM) menjadi acuan pokok penyelenggaraan pendidikan dalam mengukur pelayanan pemerintah kepada publik.

Finlandia misalnya merupakan sebuah negara yang terkenal dan menjadi trending topic serta sangat banyak dibahas oleh semua orang yang belajar pendidikan baik dari sisi ilmu pendidikan, ekonomi maupun sosiologi. Bahkan banyak penelitian menunjukkan bahwa guru yang diberikan otonomi penuh merupakan kunci keberhasilan pendidikan di Finlandia. Guru-guru disana mampu diberikan otonomi penuh karena mereka yang bisa jadi guru adalah lulusan terbaik dan memiliki passion sangat besar untuk mengajar.

Fakta lain misalnya bahwa Indonesia memiliki program yang sesuai dengan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO).

Program itu adalah Sustanaible Development Goals (SDG) yang merupakan rancangan pendidikan yang terdiri dari 15 pencapaian selama 15 tahun. Salah satu program SDG ini adalah wajib berajar 12 tahun. Indonesia merupakan negara pertama yang menjadi pilihan UNESCO untuk melaporkan pendidikan global. Ketiga negara lainnya adalah Inggris, Rwanda, dan Kolumbia. Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) mencatat tujuh masalah pendidikan yang harus segera diselesaikan pemerintah untuk mewujudkan Nawacita bidang pendidikan. (sumber Republika.co.id, Selasa (2/5). Pertama, nasib program wajib belajar (wajar) 12 tahun ini masih di persimpangan jalan.  Ke dua, angka putus sekolah dari SMP ke jenjang SMA mengalami kenaikan. Ke tiga, pendidikan agama di sekolah mendesak untuk dievaluasi dan dibenahi, baik metode pembelajarannya maupun gurunya.

Ke empat, masih lemahnya pengakuan negara atas pendidikan pesantren dan madrasah (diniyah).  Ke lima, pendistribusian Kartu Indonesia Pintar (KIP) harus tepat sasaran dan tepat waktu.  Ke enam, kekerasan dan pungutan liar di sekolah masih merajalela.

Potret buram pendidikan di Indonesia masih diwarnai oleh kasus kekerasan di sekolah dan pengaduan pungli. Modus kekerasan ini sudah sangat rumit untuk diurai, karena para pelakunya dari berbagai arah. Ke tujuh, ketidak-sesuaian antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Saat ini ada lebih dari tujuh juta angkatan kerja yang belum mempunyai pekerjaan.

Sementara di saat yang sama, dunia usaha mengalami kesulitan untuk merekrut tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kompetensi yang dibutuhkan dan siap pakai.  Atau kita bisa belajar dari Negara Vietnam yang juga memiliki system pendidika yang  baik. Vietnam misalnya sukses menjadi Negara yang system pendidikan tergolong baik.

Ada tiga faktor utama yang berkontribusi terhadap hasil yang mengesankan dicapai oleh Vietnam  yakni kepemimpinan yang berkomitmen, kurikulum yang terfokus, dan berinvestasi pada guru.

Pejabat-pejabat pada tingkat tertinggi pemerintahan Vietnam sudah berpikir mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam mendidik anak-anak mereka. Kementerian Pendidikan Vietnam telah merancang rencana jangka panjang. Mereka tampak ingin belajar dari negara-negara dengan kinerja terbaik mengenai cara melaksanakan rencana itu dan siap untuk memberikan dukungan keuangan yang diperlukan. Para pendidik di Vietnam juga telah merancang kurikulum yang terfokus agar siswa memperoleh pemahaman mendalam tentang konsep dan penguasaan keterampilan inti. Siswa-siswa itu diharapkan untuk melalui pendidikan dengan tidak hanya mampu membaca apa yang mereka pelajari di kelas, tetapi menerapkan konsep-konsep dan praktik pada konteks asing.

Pentingnya Inovasi

Pengembangan profesi tenaga pendidik akan berhasil dengan baik apabila efeknya dapat menumbuhkan sikap inovatif. Sikap inovatif ini kan makin memperkuat kemampuan profesional tenaga pendidik. Mengutip pendapat Idochi diperlukan tujuh strategi belajar guna mendorong tenaga pendidik bersikaf inovatif. Ke tujuh system pelajaran itu adalah belajar dengan kreatif, belajar seperti kupu-kupu, belajar keindahan dunia dan indahnya jadi pendidik. Kemudian belajar mulai dari yang sederhana dan konkrit, belajar rotasi kehidupan, belajar koordinasi dengan orang professional serta belajar ke luar dengan kesatuan fikiran. Belajar kreatif adalah belajar dengan berbagai cara baru untuk mendapatkan pengetahuan baru, belajar kreatif menuntut upaya-upaya untuk terus mencari. Bercermin pada kupu-kupu amat penting, mengingat kupu-kupu selalu peka dengan sari yang ada pada bunga serta selalu berupaya untuk mencari dan menjangkaunya.

Pendidik adalah perancang masa depan siswa, dan sebagai perancang yang profesional, maka tenaga pendidik menginginkan dan berusaha untuk membentuk peserta didik lebih baik dan lebih berkualitas dalam mengisi kehidupannya di masa depan.

Pendidikan bukanlah suatu proses yang sederhana dan berbatas waktu. Pendidikan pun tidak bisa diukur hanya lewat hasil, karena proses perlu juga dilihat. Melihat proses berarti melihat piranti yang ada, pemenuhan piranti itulah yang sekarang harus disegerakan sehingga konsep pendidikan yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas menemukan hasil yang pasti.

Apabila memang kurikulum yang menjadi factor penghambat harus dilakukan reformasi terhadap dunia pendidikan. Reformasi Birokrasi dibidang pendidikan juga harus terus berjalan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman ilmu pengetahuan dan teknologi. Tahap demi tahap yang menjadi factor penghambat dalam menerapkan sistem pendidikan yang baik di negeri ini harus diatasi.
SDM Unggul Era Industri 4.0

Pembangunan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sector pendidikan memiliki peran vital dalam upaya mengakselerasi pembangunan SDM Indonesia yang unggul dan mampu bersaing di tingkat global di era Revolusi Industri 4.0. Para pendidik yang mengajar dan mendidik generasi siswa milenial menghadapi tantangan  yang kompleks dan beragam. Pembelajaran harus relevan dengan siswa.

Belajar menjadi lebih berarti ketika mereka memahami aplikasi praktisi nformasi yang mereka terima. Konten harus spesifik, ringkas, dan cepat. Generasi milenial haus informasi dan akan mencarinya sendiri jika guru tidak menyajikan apa yang mereka anggap relevan.

Karena begitu banyak informasi yang selalu tersedia, mereka tidak merasa perlu belajar setiap hal segera. Sebaliknya, mereka ingin diajari bagaimana dan di mana mereka dapat menemukan apa yang mereka butuhkan. Di satu sisi sumber daya dan kebutuhan praktik terbaik pendidikan terus berkembang.

Teknologi sudah berfungsi sebagai alat luar biasa untuk membentuk dan meningkatkan lingkungan belajar. Bersamaan dengan peralatan, keterampilan literasi digital mutlak diperlukan dalam dunia pendidikan untuk memastikan teknologi digunakan untuk melengkapi, bukan menggantikan metode pengajaran berkualitas inggi. Berbagai instrumen penting disiapkan untuk membentuk lingkungan pembelajaran efektif terhadap siswa. Guru-guru hebat yang menggunakan teknologi digital dengan keterampilan komputasi bersertifikasi, akan menjadi pendidik paling kuat di abad ke-21.  Untuk mewujudkan SDM yang unggul diperlukan penerapan system pendidikan yang baik dan bermutu.

Semoga tidak hanya menjadi slogan semata di gadang-gadang namun implementasinya tidak terelisasi di lapangan.

(dihimpun dari berbagai sumber: penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi).

More
Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda