Pengembangan Budaya Literasi di Sekolah

42
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional
Mengutip pendapat Ananto Kusuma Seta (2109) menyatakan bahwa “penguasaan enam literasi dasar yang disepakati oleh World Economic Forum pada tahun 2015 menjadi sangat penting tidak hanya bagi pelajar tetapi juga terhadap seluruh masyarakat”. Enam literasi dasar mencakup literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi digital, literasi finansial, dan literasi budaya dan kewargaan. (sumber: Rakornas Bidang Perpustakaan Tahun 2019 di Birawa Hall Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada Kamis 14 Maret 2019).

Sejalan dengan itu penelitian Doxa, sebuah lembaga peneliti Italia, anak-anak Italia mendapat julukan “Grandi Lettori” alias pembaca hebat anak-anak karena memang mereka sangat mencintai budaya membaca.

Berbagai survei mengenai tingkat literasi siswa selalu menempatkan Indonesia pada posisi terendah diantara negara lain. Menghadapi era globalisasi abad 21, perkembangaan teknologi dan informasi semakin cepat. Banyak kalangan menyatakan bahwa revolusi industri generasi ke-4 memiliki skala, ruang lingkup serta kompleksitas yang lebih luas. Hal itu ditunjukkan dengan perkembangan teknologi yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri, pemerintah maupun pendidikan.

Menyikapi tantangan era revolusi industri 4.0, maka sektor pendidikan tidak bisa mengabaikan atau membiarkan perubahan begitu saja namun harus melakukan adaptasi terhadap literasi baik itu literasi teknologi/digital.

Pentingnya GLS
Gerakan Literasi Sekolah (GLS) bertujuan menumbuhkan budaya membaca dan menulis (literasi) pada warga sekolah, baik kepala sekolah, peserta didik, dan guru yang berujung pada kemampuan mamahami informasi secara analitis, kritis, dan reflektif.

GLS bertujuan menciptakan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan aktivitas membaca yang tidak sekadar membaca dan menulis.

GLS memandang literasi sebagai upaya penumbuhan budi pekerti yang menekankan pada kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktifitas seperti, menyimak, membaca, menulis, melihat, dan atau berbicara (Sutrianto, dkk, 2016:2).

Kemampuan tersebut diharapkan menjadi penghubung dalam membentuk karakter peserta didik yang memiliki pola pikir kritis thinking (berfikir kritis), komunikatif, koloboratif, dan kreatif.
GLS selain bertujuan untuk membentuk karakter peserta didik juga memiliki tujuan untuk menjadikan lingkungan sekolah menjadi lingkungan pembelajar sepanjang hayat dengan membudayakan membaca dan menulis (literasi) sebagai jantung dari aktifitas di sekolah.

GLS memiliki prinsip-prinsip yang harus diterapkan dalam praktiknya. Prinsip-prinsip meliputi, perkembangan literasi berjalan sesuai tahapan pengembangan yang diprediksi, program literasi bisa berimbang, program literasi berlangsung di semua kurikulum, tidak ada istilah terlalu banyak membaca dan menulis yang bermakna, diskusi dan strategi bahasa lisan, serta keberagaman perlu dirayakan di kelas dan sekolah.(Beers: 2016:11).

Adaptasi sektor pendidikan terhadap GLS dapat dilakukan melalui pemberdayaan literasi digital dan pemberdayaan kemampuan berpikir kritis. Literasi digital dilakukan dengan tiga tahap yakni pembiasaan, implementasi di kelas, dan pengembangan. Ferguson (2016:9) menyatakan bahwa, kemampuan literasi seseorang mencakup literasi dasar, literasi perpustakaan, literasi media, literasi teknologi dan literasi visual. Kemampuan tersebut kemudian berkembang menjadi literasi informasi yang memberikan pemahaman terhadap seseorang mengenai informasi yang sedang dibaca atau ditulis secara kritis, analitis, dan reflektif.

Era inovasi disruptif, dimana inovasi akan berkembang sangat pesat, sehingga mampu membantu terciptanya segmen pasar baru. Era pendidikan yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0 identik dengan pendidikan 4.0 dengan krakateristiknya meliputi digitalisasi, optimasi dan kostumasi produksi, otomatasi dan adaptasi, interaksi antara manusia dengan mesin, serta penggunaan teknologi informasi. Generasi milenial harus dapat menghadapi pendidikan revolusi industri 4.0 diantaranya jangan pernah berhenti berinovasi, jangan “berlindung” dibawah regulasi, manfaatkan teknologi, jangan pernah merasa puas serta ciptakanlah hubungan yang “object oriented”,(Bintoro:2018).

Kemajuan teknologi memungkinkan terjadinya otomatisasi hampir di semua bidang. Teknologi dan pendekatan baru yang menggabungkan dunia fisik, digital, dan biologi secara fundamental akan mengubah pola hidup dan interaksi manusia,(Tjandrawinata, 2016).

Beberapa tantangan yang dihadapi pada era industri 4.0 yakni masalah keamanan teknologi informasi, keandalan stabilitas mesin produksi, kurangnya keterampilan yang memadai, ketidakmampuan untuk berubah oleh pemangku kepentingan, dan hilangnya banyak pekerjaan karena berubah menjadi otomatisasi.

Literasi Digital

Berdasarkan data 2018 terdapat lebih dari 143 juta pengguna internet di Indonesia dan 66% di antaranya berusia di bawah 35 tahun atau generasi milenial. Sejalan dengan itu dalam pidato kenegaraan pada sidang tahunan MPR pada tanggal 16 Agustus 2018, Presiden Joko Widodo menegaskan, generasi muda harus dipersiapkan melalui pembinaan literasi digital agar dapat beradaptasi di era Industri 4.0.(sumber APJII:2018).

Menghadapi abad 21 sangat penting untuk mengintegrasikan serta mengembangkan pembelajaran berbasis digital yakni collaboration, critical thingking, creative, and communication yang berguna untuk memecahkan permasalahan dalam kehidupan nyata maupun dalam masyarakat modern. Dengan dengan jumlah penduduk hampir 260 juta jiwa, Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang dan maju. Pengembangan literasi digital sekolah dituntut untuk memiliki rancangan kebijakan serta upaya kolaboratif dalam mengedukasi warga sekolah serta masyarakat agar ikut secara aktif berpartisipasi dalam penanggulangan konten negatif di internet.

Membangun literasi digital dapat dilakukan melalui tiga aktivitas utama yakni membangun kecakapan untuk antikonten negatif seperti hoaks, cyberbullying, ujaran kebencian, pornografi, dan pembajakan. Peningkatan kecakapan untuk memproduksi konten positif seperti bijak bermedia soaial, pengembangan ekonomi digital termasuk startup, e-commerce, wirausaha digital dan optimasi internet untuk pendidikan. Pengembangan kecakapan transformasi digital antara lain coding, big data analysis, keamanan siber, privasi, regulasi, kecerdasan buatan, advanced robotics serta teknologi 4.0 lainnya.
Pada tatanan era digital yang identic dengan generasi millenial dengan android dalam genggaman yang dilengkapi dengan aplikasi kita dengan mudah mengkases berbagai perkembangan dan peristiwa berliterasi di berbagai belahan dunia.

Sebagai generasi millenial dibutuhkan komitmen yang kuat berliterasi khususnya usia sekolah sehingga bisa mengubah kehidupan dalam peningkatan kemampuan dasar membaca dan menulis ke arah yang lebih baik. menjadi kewajiban yang harus dimiliki oleh setiap manusia.

Literasi digital (digital literacy) merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks akademik, karir dan kehidupan sehari-hari (Gilster, 1997).

Untuk kalangan pendidik misalnya strategi literasi digital yang dapat dilakukan yakni pembiasaan personal, implementasi pembelajaran serta pengembangan dalam berbagai kegiatan pendidikan.
Mengutip pendapat Gane (1980) yang menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan “berpikir logis dan reflektif yang difokuskan pada keputusan tentang apa yang harus dicapai atau apa yang harus dilakukan seseorang”. Kemampuan berpikir kritis merupakan jembatan dan prasyarat untuk memahami serta menginpleentasikan revolusi industri 4.0. Kemampuan memaknai, menganalisis dan memecahkan masalah yang kompleks merupakan salah satu wujud dari kemampuan berpikir kritis.

Strategi pengembangan berpikir kritis dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler. Kegiatan pembelajaran mengupayakan proses yang menstimulasi dan mengkondisikan siswa maupun guru melakukan berbagai upaya-upaya dengan membandingkan, menghubungkan sebab-akibat, memberikan alasan, membuat ringkasan dan kesimpulan, berpendapat, mengelompokkan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi bahkan mencipta.

Berkaitan dengan hal tersebut pengembangan budaya literasi di lingkungan pendidikan khususnya sekolah harus dilakukan secara terus menerus dan tidak boleh terputus. Penyiapan sumberdaya manusia (SDM) yang unggul memang seharusnya dimulai dari sekolah termasuk literasi-literasi dalam pengembangan kompetisi anak didik harus dipersiapkan kontennya. Konten-konten yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan berpikir kritis serta peningkatan kemampuan berpikir dan problem solving harus dilakukan secara berkelanjutan.

Profil sekolah bermutu adalah sekolah yang mampu mengembangkan budaya literasi sesuai dengan kebutuhan maupun perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan seni (IPTEKS) termasuk literasi digitalnya. Sistem pembelajaran berbasis multimedia digital yang identik dengan konten mata pelajaran bisa diterapkan oleh guru apabila tersedia sarana dan prasarana di dalam suatu kelas atapun sekolah. Guru dan siswa bisa saling berkolaborasi dalam memecahkan suatu persoalan (problem solving) yang berkaitan dengan hambata-hambatan yang mereka temukan dalam meningkatkan potensi siswa.

Pengembangan budaya literasi di lingkungan sekolah diyakini mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa dalam menghadapi era global. Semoga. Selamat Hari Guru Tahun 2019.

(dihimpun dari berbagai sumber:*: Penulis adalah Guru SMPN 11 Kota Jambi ).

More
Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda