Pengembangan Diri dan Srtategi Individual Guru

24
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional
Mengutip pemikiran Jhon C. Maxwell yang menyajikan tawaran untuk meningkatkan mutu diri sendiri (pengembangan diri) bagi guru dari hari ke hari ada 8 poin penting.

Ke delapan poin itu diantaranya ;  jangan takut berbuat kesalahan, mengubah kehidupan dengan cara mengubah sesuatu yang dikerjakan keseharian.

Merumuskan harapanyang realistik bagi perbaikan diri; perubahan yang kontinyu untuk perbaikan yang kontinyu. Motivasi penggerak utama, kebiasaan menjaga perjalanannya, jangan selalu menuntut hasil segera dan focus.

Alokasikan 80% waktu kerja berbasis pada kekuatan anda. Profesi guru harus memiliki berbagai kompetensi professional, personal, dan sosial. Seseorang dianggap professional apabila mampu mengerjakan tugasnya dan selalu berpegang teguh pada etika kerja, independent (bebas tekanan dari pihak luar), cepat (produktif), tepat (efektif), efisien serta inovatif.

Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 menyatakan bahwa diklat fungsional adalah kegiatan guru dalam mengikuti pendidikan atau pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keprofesian guru yang bersangkutan dalam kurun waktu tertentu.

Kegiatan kolektif guru merupakan kegiatan guru dalam mengikuti kegiatan pertemuan ilmiah atau mengikuti kegiatan bersama yang dilakukan guru baik di sekolah maupun di luar sekolah (seperti KKG/MGMP/MGBK) dan bertujuan untuk meningkatkan keprofesian guru.

Pengembangan diri merupakan penyemaian potensi diri sendiri bahkan pengembangan diri ibarat yang perlu disemaikan dulu baru bisa ditanam.
Pengembangan diri diartikan sebagai proses pembentukan sikap dan perilaku yang relatif menetap melalui pengalaman yang berulang-ulang sampai pada tahap otonomi (kemandirian) mengenai suatu perilaku tertentu. Pengembangan diri terkait erat dengan perbaikan diri, bahkan secara konotatif sangat tidak mungkin bermakna sama.

Perbaikan diri diawali dengan pengenalan siapa diri sendiri yang sesungguhnya. “self improvement is about knowing who your self are” bahwa kita harus tahu apa yang tidak kita ketahui.

Perbaikan diri merupakan petualangan penemuan oleh diri sendiri,  kemauan pribadi keluar dari tradisi anti perubahan dan memasuki zona kehidupan baru untuk tumbuh dan berkembang secara individual. Direktorat jenderal pendidikan dasar dan menengah departemen pendidikan nasional (2005) menyebutkan beberapa alternatif program pengembangan profesionalisme guru.

Diantaranya program peningkatan kualifikasi pendidikan guru, program penyetaraan dan sertifikasi, program pelatihan terintegrasi berbasis kompetensi. Program supervisi pendidikan, program pemerdayaan MGMP musyawarah guru mata pelajaran, symposium guru, program pelatihan tradisional lainnya, membaca dan menulis jurnal atau karya ilmiah serta berpartisipasi dalam pertemuan ilmiah. Kemudian melakukan penelitian (khususnya penelitian tindakan kelas), magang, mengikuti berita aktual dari media pemberitaan, berpartisipasi dan aktif dalam organisasi profesi dan menggalang kerja sama dengan teman sejawat.

Seorang pendidik dituntut untuk konsisten mengembangkan dirinya, yaitu meningkatkan kompetensinya sebagai tenaga pendidik  yang profesional, baik itu pengetahuan (knowledge) maupun ketrampilan (skill).

Pengembangan diri berkaitan dengan kompetensi disiplin ilmu yang dimiliki, kemampuan memanfaatkan teknologi kekinian untuk mendukung aktivitas pembelajaran.  Memasuki era digital dan industri 4.0 setiap pendidik wajib untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

Pengembangan diri merupakan upaya-upaya  yang dilakukan oleh seorang guru dalam rangka meningkatkan kompetensi dan profesionalismenya.

Pengembangan Diri Guru

Pengembangan diri guru ialah upaya untuk meningkatkan profesionalisme diri sebagai seorang guru atau pengajar agar memiliki kompetensi dan kemampuan yang sesuai dengan peraturan perundangan dan dapat melaksanakan tugas pokok dan kewajibannya dalam memberikan pengajaran terhadap siswa di sekolah. Beberapa hal yang menjadi problematika pengembangan profesionalisme guru diantaranya kurangnya minat guru untuk meneliti. Banyak guru yang malas untuk meneliti di kelasnya sendiri dan terjebak dalam rutinitas kerja sehingga potensi ilmiahnya tidak muncul ke permukaan.

  Setiap aktivitas guru dapat diketahui oleh masyarakat sehingga guru akan berupaya menampilkan kinerja yang lebih baik. Pidarta (1999) yang menyatakan bahwa apabila guru tidak mau belajar dan tidak mampu menampilkan diri sangat mungkin masyarakat  tidak menghiraukan mereka.

Karena itu guru harus terus belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Beberapa  alasan mengapa seorang guru harus terus belajar diantaranya  profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas dan memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

Kemudian perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menuntut guru untuk harus belajar beradaptasi dengan hal-hal baru yang berlaku saat ini.

Karakter peserta didik, yang senantiasa berbeda dari generasi ke generasi menjadi tantangan tersendiri bagi para kalangan guru.
Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) memiliki konsekuensi bahwa guru secara berkesinambungan belajar setelah memperoleh pendidikan atau pelatihan awal sebagai guru. PKB mendorong guru untuk memelihara dan meningkatkan standar mereka secara keseluruhan mencakup bidang-bidang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai profesi.

Melalui kesadaran untuk memenuhi standar kompetensi profesinya serta upaya untuk memperbaharui dan meningkatkan kompetensi profesional selama periode bekerja sebagai guru.
PKB dilakukan dengan komitmen secara holistik terhadap struktur ketrampilan dan kompetensi pribadi ataupun bagian-bagian penting dari kompetensi profesional.

PKB dalam rangka pengembangan pengetahuan dan ketrampilan merupakan tanggung jawab guru secara individu dan dapat mendukung kebutuhan individu serta meningkatkan praktik-praktik keprofesionalan guru.

Seorang guru juga dituntut untuk melakukan publikasi ilmiah dimana publikasi ilmiah merupakan karya tulis ilmiah yang telah dipublikasikan kepada masyarakat sebagai bentuk kontribusi guru terhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan secara umum.  Sedangkan karya inovatif adalah karya yang bersifat pengembangan, modifikasi atau penemuan baru sebagai bentuk kontribusi guruterhadap peningkatan kualitas proses pembelajaran di sekolah dan pengembangan dunia pendidikan, sains/teknologi dan seni.

Kualitas Guru di Era Milenial Banyak kalangan maupun para ahli menyatakan menjadi guru merupakan panggilan hati yang membutuhkan kebulatan hati dan tekad dalam menjalankan amanah yang diembannya. Hal ini terjadi karena guru merupakan suri tauladan masyarakat dalam kesehariannya.

Hal demikian juga terkait dengan akronim guru yaitu digugu dan ditiru.  Begitu besarnya peran seorang guru sehingga profesi ini sangat membutuhkan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam menjalankan aktivitas profesinya. Guru dan pendidikan merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan.

Dalam lingkungan pendidikan jugalah seorang guru mengembangkan profesi yang dimilikinya.  Menjadi guru di era sekarang membutuhkan perjuangan yang super ekstra berat.  Era sekarang semua pelatihan dilakukan dengan melibatkan teknologi di dalamnya, mulai dari proses pendaftaran, pengiriman berkas atau laporan pelaksanaannya yang serba online (daring), pretest dan post test yang online dan lain sebagainya. Globalisasi di bidang teknologi komunikasi dan Informasi menjadi tantangan terberat dan paling kompleks dihadapi oleh guru saat ini maupun di masa mendatang.

Kita berharap bahwa ditangan Menteri Pendidikan Nadiem Anwar Makarim  akan terjadi perubahan yang signifikan system pembinaan guru dan perubahan kurikulum.

Perlu peningkatan kuantitas dan kualitas kegiatan pelatihan dan pembinaan yang berkaitan dengan guru seperti diklat, bimtek , seminar dan lainnya yang tidak menggangu jam pelajaran di sekolah. Intinya guru seminimal mungkin diupayakan untuk tidak meninggalkan kelas sebagai tugas pokok dan fungsinya yaitu mengajar. Sedapat mungkin pelatihan atau[un diklat dilakukan pada hari-hari libur agar kegiatan dapat berjalan dengan baik dan tidak mengganggu kegiatan proses pembelajaran.

Kegiatan kelompok kerja guru (KKG) dan kegiatan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) dan sejenisnya juga diharapkan untuk tidak dilakukan pada jam-jam efektif.  Selain peningkatan pelatihan di bidang kognitif, pelatihan di bidang mental dan penguatan karakter juga harus dilakukan. Hal ini sangat erat kaitannya dengan peningkatan karakter positif guru.

Perlu digarisbawahi bahwa guru abad ke-21 harus mempunyai sejumlah karakteristik yang tepat untuk mengajar siswa milenial. Karakteristik tersebut antara lain menjadikan siswa sebagai produser, belajar teknologi baru, berwawasan global, siap dengan era digital, berkolaborasi, pembelajaran berbasis proyek, dan terus berinovasi, mengingat karakteristik siswa di zaman milenial sangat  aware teknologi, warga global, otentik, liberal, progresif, percaya diri, dan berorientasi tim. Karena itu, guru perlu memahami model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan zaman, yaitu berpikir kritis, kolaborasi, keterampilan komunikasi, dan literasi, untuk mendidik peserta didikanya. Guru harus menjadi “role model” bahwa generasi digital identik dengan pandangan rasional, apa yang dilihat, didengar, dirasa akan melahirkan persepsi.

Pendekatan yang gunakan oleh guru terhadap generasi millenial agar pembelajaran berjalan dengan baik bisa menggunakan metode 4R, yaitu research, relevance, rapport serta rational. Generasi milenial cenderung akan lebih mengikuti aturan, apabila para guru menyediakan serta memberikan para siswa dasar pemikiran rasional tentang pentingnya suatu tugas atau kebijakan tertentu.Semoga.

(Disarikan dari berbagai sumber relevan: Penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi).

Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda