Pengembangan Profesionalisme Kontribusinya Terhadap Kompetensi Guru

19
Bagikan Berita ini

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Mengutip pendapat King dan Newmann dalam Peter Cuttance (2001:125) berpendapat bahwa dalam upaya meningkatkan proses pembelajaran, pengembangan profesional dapat memberikan kontribusinya melalui hal-hal berikut: improving the knowledge, skill and disposition of individual staff member, organised, collective enterprise arising from a strong, school-wide professional community and focused oherent and sustained staff and student learning.

Pengembangan professional (professional development) merupakan pengembangan kemampuan profesional yang akan memberikan kontribusi pada peningkatan kemampuan/kompetensi guru yang pada akhirnya akan berdampak pada makin meningkatnya kualitas pembelajaran. Sejalan dengan itu Magioli (2004:5) ”Professional development can be defined as a career-long process in whch educators fine-tune their teaching to meet student needs”. Pengembangan profesinal guru dapat menjadikan proses pendidikan dan pembelajaran makin meningkat karena kemampuan dan kompetensi guru akan terus berkembang.

Menjadi guru yang proofesional, seorang guru harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yang positif. Mengutip pendapat Gilbert H. Hunt menyatakan bahwa guru yang baik itu harus memenuhi tujuh kriteria yakni sifat positif dalam membimbing siswa, pengetahuan yang memadai dalam mata pelajaran yang dibina dan mampu menyampaikan materi pelajaran secara lengkap.

Selanjtnya mampu menguasai metodologi pembelajaran, mampu memberikan harapan riil terhadap siswa, mampu mereaksi kebutuhan siswa serta mampu menguasai manajemen kelas.
Berkenan dengan hal tersebut diatas maka diperlukan strategi agar guru secara terus menerus meningkatkan kinerja profesionalismenya untuk mendukung kompetensi yang dimilikinya.

Kata kunci: profesi dan kompetensi

Tuntutan Profesionalisme
Sebagaimana banyak kalangan berpendapat bahwa tuntutan profesionalisme guru memerlukan upaya untuk terus mengembangkan sikap profesional, melalui peningkatan kapasitas guru agar makin mampu mengembangkan profesinya dalam menjalankan tugarnya di sekolah. Menurut Roland S. Barth (1990:49) adalah: The crux of teachers’ professional growth, I feel, is the development of a capacity to observe and analyze the consequences for students of different teaching behaviour and materials, and to learn to make continous modification of teaching on the basis of cues student convey.

Hal ini sejalan dengan tuntutan terhadap profesi, termasuk profesi guru, yang selalu menuntut upaya peningkatan terus menerus.

Pengembangan profesional pendidik memerlukan peningkatan kompetensi khususnya dalam menghadapi masalah pembelajaran di kelas, dan inovasi pembelajaran merupakan hal yang penting dalam kompetensi tersebut. Inovasi Pembelajaran (Depdiknas, 2007:2) apabila dilaksanakan secara berkesinambungan akan memberikan manfaat yakni kemampuan dalam menyelesaikan masalah pembelajaran akan semakin meningkat, penyelesaian masalah pembelajaran melalui sebuah pengembangan inovasi akan meningkatkan isi, masukan, proses, sarana/prasarana dan hasil belajar peserta didik. Peningkatan kemampuan dalam pembelajaran tersebut akhirnya akan berdampak pada peningkatan kepribadian dan keprofesionalan dosen dan guru untuk selalu berimprovisasi baik melalui adopsi, adaptasi, atau kreasi dalam pembelajaran dan bermuara pada peningkatan kualitas lulusan.

Menurut Hamalik (2002:1), profesi adalah pernyataan atau suatu janjian terbuka bahwa akan mengabdikan dirinya kepada suatu jabatan. Pengembangan kinerja guru dilihat dari sudut manajemen kinerja dapat dilakukan dengan dua pendekatan yakni pendekatan berbasis kompetensi (Competency Based Performance Management/ CBPM) dan pendekatan berbasis kinerja (Performance Based Performance Management/PBPM).

Pendekatan berbasis kompetensi melakukan pengembangan kinerja melalui peningkatan kemampuan pegawai/ guru untuk melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan peran dan tugasnya, sedangkan pendekatan berbasis kinerja melakukan pengembangan pegawai/guru melalui implementasi praktek-praktek terbaik (best practice) dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan bidang tugasnya.

Setiap usaha pengembangan profesi (professionalization) harus bertolak dari konstruk profesi, untuk kemudian bergerak ke arah substansi spesifik bidangnya. Diletakkan dalam konteks pengembangan profesionalisme keguruan, maka setiap pembahasan konstruk profesi harus diikuti dengan penemukenalan muatan spesifik bidang keguruan.

Tugas guru dikatakan sebagai tugas profesional ini meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilam pada siswa.

Guru juga dapat dikatakan memiliki tugas kemanusiaan karena di sekolah guru menjadi orang tua peserta didik (siswa). Dengan demikian guru adalah orangtua ke dua bagi anak di sekolah.
Mengutip pendapat Westby dan Gibson yang mengatakan bahwa pekerjaan pendidikan dikatakan proesional apabila memenuhi persyaratan antara lain diakui oleh masyarakat dan layanan yang diberikan hanya dikerjakan oleh pekerja yang dikategorikan sebagai profesi.

Memiliki sekumpulan bdang ilmu pengetahuan sebagai landasan dari sejumlah teknik dan prosedur yang unik. Diperlukan persiapan yang sengaja dan sistematis, sebelum orang yang bersngkutan dapat melaksanakan pekerjaan professional. Memiliki mekanisme untuk menyaring sehingga orang yang berkompeten saja yang diperbolehkan bekerja serta memiliki organisasi profesional yang meningkatkan layanan kepada masyarakat.

Pengembangan profesi

Pengembangan profesi adalah kegiatan guru dalam rangka pengamalan ilmu dan pengetahuan, teknologi dan keterampilan untuk peningkatan mutu baik bagi proses belajar mengajar dan profesionalisme tenaga kependidikan lainnya maupun dalam rangka menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi pendidikan dan kebudayaan. Guru merupakan pekerjaan dan sudah menjadi sumber penghasilan bagi begitu banyak orang, serta memerlukan keahlian berstandar mutu atau norma tertentu. Secara teoretik, syarat pertama profesi menurut Ritzer (1972), yakni pengetahuan teoretik (theoretical knowledge). Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan. Sedangkan Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan mempunyai; dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21; penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praktis bukan hanya merupakan konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat Indonesia; pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan praktek pendidikan.

Peningkatan Kompetensi

Pada tahun 2016 lalu Indonesia sudah masuk pada era MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) namun kompetensi guru di Indonesia masih perlu pembenahan lebih lanjut. Guru yang professional harus dapat mewujudkan lulusan yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan. Diantaranya communication skills, critical and creative thinking, information/digital literary, inquiry/reasoning skills, interpersonal skills, multi cultural lingual literary, problem solving, and technological skills (Sumedi dkk., 2013). Menghadapi era global dan industry 4.0, guru dituntut untuk lebih kritis, kreatif dan inovatif. Agar dapat membantu siswa menentukan pilihan, jelas guru harus dapat melakukan pemilihan dalam hidup mereka sendiri. Guru perlu mengembangkan sikap kritis, keterampilan melakukan pemilihan serta mengambil keputusan secara bijak. Siswa perlu dibantu untuk melihat persoalan dengan berbagai kemungkinan.

Ini hanya mungkin terjadi bila guru membiasakan diri berpikir rasional, kritis, kreatif dan inovatif. Mengutip pendapat Ingersoll dan Perda (2007) telah mengembangkan karakteristik guru profesional yang digunakan untuk menilai profesionalisasi mengajar. Karakteristik guru profesional tersebut yakni credential and licensing requirements for entry, induction and mentoring programs for entrance, professional development support, opportunities and participation, specialization, uthority over decision making, compensation levels and prestige and occupational social standing. Berkenan dengan hal tersebut maka setiap negara dan bangsa harus meningkatkan keunggulan komparatif (comparative advantage) dan keunggulan kompetitif (competitive advantage) yang dimiliki serta kemampuan kerja sama dengan bangsa-bangsa lain. Guru pada abad 21 memiliki karakteristik yang spesifik dibanding dengan guru pada abad-abad sebelumnya.

Adapun karakteristik yang dituntut dalam era tersebut yakni memiliki semangat juang dan etos kerja yang tinggi disertai kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap. Mampu memanfaatkan iptek sesuai tuntutan lingkungan sosial dan budaya di sekitarnya.

Berperilaku profesional tinggi dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi. Memiliki wawasan ke depan yang luas dan tidak picik dalam memandang berbagai permasalahan, memiliki keteladanan moral serta rasa estetika yang tinggi serta mengembangkan prinsip kerja dalam bersaing.

Agar dapat berperilaku profesional dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi ada beberapa faktor yang harus senantiasa diperhatikan. Diantaranya sikap keinginan untuk mewujudkan kinerja ideal, sikap memelihara citra profesi, sikap selalu ada keinginan untuk mengejar kesempatan-kesempatan profesionalisme, sikap mental selalu ingin mengejar kualitas cita-cita profesi, serta sikap mental yang mempunyai kebanggaan profesi. Kinerja inovatif seorang guru dalam upaya mencapai proses belajar mengajar yang efektif dan fungsional terhadap kehidupan seorang siswa jelas perlu terus dikembangkan.

Memasuki era milenial, karakter anak milenial terbentuk oleh zaman yang disebut Terry Flew (2016) sebagai era konvergen media sosial, sebuah era yang media dikuasai siapa saja sebagai alat produksi beragam pesan.

Guru pada abad 21 dan abad selanjutnya ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Pembelajaran di kelas dan pengelolaan kelas, pada abad ini harus disesuaikan dengan standar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Terdapat 7 tantangan guru di abad 21, yakni teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa.

Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep). Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif. Teaching and technology, mengajar dan teknologi. Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan.

Teaching and choice, mengajar dan pilihan dan teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas.(sumber: Susanto, 2010). Perlu digarisbawahi bahwa kalangan generasi milenial memiliki tujuh sifat dan karakter yakni milenial lebih percaya kepada informasi interaktif dari pada informasi searah. Milenial lebih memilih ponsel dari TV, milenial wajib memeilki media sosial, milenial lebih senang membaca digital daripada membaca konvensional.

Milenial lebih tahu tehnologi dibanding orang tua mereka, milenial cenderung tidak loyal tapi efektif bekerja serta milenial sudah mulai melakukan transaksi cashless.

Dengan demikian pengembangan profesionalisme memiliki kontribusi terhadap kompetensi guru. Semakin professional seorang guru maka semakin kompeten keahlian yang dimilikinya. Untuk itu seorang guru yang diamanahi tugas mendidik, membimbing, melatih dalam menjalankan tugas-tugas profesionalismenya harus secara terus menerus belajar untuk meningkatkan kompetensinya. Kompetensi professional apabila dilakukan dengan baik dan terus belajar maka kompetensi paedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi social akan berjalan seiring dengan kompetensi professional. Karena itu jadilah guru professional yang terus menerus mengembangkan kompetensi profesionalismenya dengan baik. Semoga.

(Dihimpun dari berbagai sumber relevan: penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi).

More
Bagikan Berita ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Tulis komentar anda
Mohon masukkan nama anda